Kejujuran mahal harganya. Ya, kalimat itu sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat, berangsa dan bernegara. Terlebih, saat melihat berita di koran, majalah, televisi, dan media masa lain. Nazarudin, Nunun, Gayus adalah sebagian orang yang melakukan praktik korupsi. Becik ketitik ala ketara. Baik dan buruk akan ketahuan pada akhirnya. Apa mereka ketika duduk di bangku sekolah tidak diajarkan kejujuran di sekolah?
Bohong sering dihiraukan orang lain. Ada yang dengan sengaja melakukannya, ada pula yang terpaksa. Baik terpaksa maupun tidak, seseorang harus berusaha jujur. Oleh karena itu, apabila hal ini dibiarkan, lama-lama hal ini akan membudidaya dalam masyarakat. Perlu ditanamkan kejujuran sejak dini kepada pelajar agar terbiasa berkata jujur. Hal ini untuk mempersiapkan masa depan supaya pemimpin bangsa kelak mensejahterakan rakyat, bukan membuat rakyat menderita.
Dalam rangka mewujudkan generasi muda mendatang memiliki kepribadian yang baik, sekolah-sekolah kini menggalakkan pendidikan karakter di mana pelajar mendapat pidato atau bahkan berlatih mempraktikan langsung pendidikan karakter. Ada yang berpendapat, ”Memangnya selama ini tidak dididik dengan baik dan benar?”. Namun ada juga yang berpendapat, ”Bukannya begitu, melainkan kita harus lebih mendidik siswa agar di masa mendatang tidak terjadi hal hal negatif seperti sekarang.”
Pendapat manapun yang dikemukakan kita sebaiknya mengambil hal hal positif yakni meningkatkan karakter siswa dalam realita kehidupan. Muncul sebuah gagasan yakni kantin kejujuran. Kantin kejujuran sebagai media penerapan pendidikan karakter siswa. Siswa mengambil dan meletakan uang sesuai dengan transaksi yang dilakukannya. Dengan demikian, apabila kejujuran terus diasah, dapat membudidaya dalam karakter siswa.
Semua dilakukan untuk mendidik siswa agar mampu menjadi pemimpin yang jujur, adil dan bijaksana. Dengan demikian, koruptor-koruptor masa mendatang semakin sedikit. Komisi Pemberantas Korupsi tidak perlu bersusah payah memberantas koruptor. Dengan begitu, negara akan makmur dan sejahtera.
Ivan Dana Saputra/15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar